Ternyata Bukan Hanya 1 Syawwal (Idul Fithri), 1 Januari (Tahun Baru Masehi) Pun Bisa Berbeda

Kamis, Oktober 20, 2016

Setiap tanggal 1 Syawal umat Islam merayakan Idul Fithri setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Satu bulan di sini adalah satu bulan qomariyah atau satu bulan menurut kalender lunar. Kalender lunar/qomariyah adalah kalender yang didasarkan pada perhitungan pergerakan bulan. Setidaknya ada 4 system kalender di dunia, yaitu kalender solar/syamsiyah yang berdasarkan pergerakan matahari, kalender lunar yang didasarkan pada pergerakan bulan mengelilingi bumi, kalender luni-solar yang menggabungkan pergerakan matahari dan bulan, dan kalender yang tidak mendasarkan pada pergerakan dua benda angkasa tersebut.

Di atas disebutkan bahwa kalender solar didasarkan pada pergerakan matahari. Ini bukan karena saya menganut pendapat Ptolemeus tentang geosentrisme, tapi sekedar ingin menyampaikan bahwa kalender solar sudah dipakai sejak manusia masih menganut geosentrime, berabad-abad sebelum heliosentrisme dianggap benar oleh para astronom.

Kalender solar yang digunakan di Imperium Roma dan sekarang menjadi kalender yang banyak dipakai dunia menjadikan tahun kelahiran Isa Almasih(?) sebagai tahun pertamanya dan karena itu kalender solar yang sekarang berlaku di dunia dikenal dengan Kalender Masehi atau Miladiyah. Sedangkan kalender lunar yang dipakai umat Islam menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah sebagai tahun pertamanya dan oleh karena disebut dengan Kalender Hijriyah. Peristiwa kelahiran Isa Almasih dan hijrah Nabi “hanya” dipakai sebagai tanda dimulainya tahun dalam sistem kalender sehingga kita bisa menandai sebuah peristiwa terjadi pada tahun ke berapa, baik sebelum maupun sesudah Miladiyah dan Hijriyah.

Perbedaan Penentuan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan NU
Kalender adalah penanda waktu yang bersifat profan atau duniawi. Tapi ketika waktu yang ditandai tersebut terkait dengan sesuatu yang sakral dan religious maka urusannya menjadi begitu serius. Salah satunya adalah ketika waktu tersebut terkati dengan awal-awal bulan penting dalam Islam: Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Di Indonesia penentuan awal Syawal sering menimbulkan kegaduhan. Ini karena ada perbedaan penentuan antara beberapa organisasi masyarakat (ormas) Islam yang ada. Ini terjadi ketika dua ormas Islam terbesar, Muhammadiya dan Nahdhatul Ulama (NU) berbeda keputusan dalam hal kapan 1 Syawal akan jatuh.

Perbedaan tersebut diawali dari perbedaan metode menentukan awal bulan atau bulan baru. NU berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan adalah dengan melihat (rukyat) hilal (bulan baru). Hisab atau perhitungan astronomi-matematis hanyalah pemandu, keputusan akhir tentang bulan baru terletak pada rukyatul hilal. Sedangkan Muhammadiyah berpendapat bahwa awal bulan qomariyah bisa ditentukan cukup dengan hisab tanpa rukyah. Kriteria awal bulan qomariyah menurut Muhammadiyah adalah ketika sudah terjadi (1) ijtimak atau konjungsi, yaitu ketika bulan apada titik lurus antara bumi dan matahari, (2) ijtimak tersebut terjadi sebelum matarahari tenggelam (pergantian hari dalam system kalender lunar), dan (3) pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud). Kalau ketiga kriteria tersebut sudah terpenuhi semua maka Muhammadiyah akan memutuskan bahwa tanggal baru sudah muncul. Di kesempatan lain saya ingin membahas secara khusus kriteria hisab yang dianut oleh Muhammadiyah dan apa konsekwensinya.

Kalender Julian dan Kalender Gregorian
Kalender Solar-Masehi yang berlaku global hari ini dikenal juga dengan Kalender Gregorian. Ini karena kalender tersebut mulai diperlaukan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582 M. Kalender Gregorian merupakan modifikasi dan revisi terhadap Kalender Masehi yang sebelumnya menggunakan kalender yang ditetapkan sejak zaman Julius Caesar pada 45 Sebelum Masehi (SM) atau dikenal juga dengan Kalender Julian.

Satu tahun menurut Kalender Julian adalah 365 hari 6 jam. Untuk mengatasi masalah kelebihan jam dalam setiap tahunnya maka ditetapkanlah penambahan 1 hari atau dikenal dengan tahun kabisat. Dalam Kalender Julian tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi 4.

Setelah dipejari dan dievaluasi ternyata Kalender Julian dinilai tidak akurat. Ini karena revolusi atau pergerakan bumi menglilingi matahari adalah selama 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik untuk satu tahunnya. Koreksi perhitungan ini menyebabkan koreksi terhadap penentuan tahun kabisat yang selama ini diterapkan dalam Kalender Julian. Penetuan tahun kabisat dalam Kalender Gregorian mengikuti rumus berikut:
  1. Jika angka tahun itu habis dibagi 400, maka tahun itu sudah pasti tahun kabisat,
  2. Jika angka tahun itu tidak habis dibagi 400 tetapi habis dibagi 100, maka tahun itu sudah pasti bukan merupakan tahun kabisat,
  3. Jika angka tahun itu tidak habis dibagi 400, tidak habis dibagi 100 akan tetapi habis dibagi 4, maka tahun itu merupakan tahun kabisat,
  4. Jika angka tahun tidak habis dibagi 400, tidak habis dibagi 100, dan tidak habis dibagi 4, maka tahun tersebut bukan merupakan tahun kabisat.

Ketika dihitung dengan rumus yang dipakai Kalender Gregorian maka Kalender Julian dinilai kelebihan hari. Maka setelah Kalender Gregorian ditetapkan, ditetapka pula bahwa setelah Kamis-4 Oktober 1582 adalah Jumat-15 Oktober 1582. Jadi pada tahun 1582 tidak ada tanggal 5-14 Oktober.

Perbedaan 1 Januari (Tahun Baru)
Ketika Kalender Gregorian ditetapkan tidak semua negara langsung menggunakannya. Bahkan sampai saat ini masih ada yang menggunakan Kalender Julian, seperti Gereja Ortodoks. Bagi yang masih menggunakan Kalender Julian tentu tanggal 1 Januari atau Tahun Baru mereka tidak sama atau tidak berbarengan dengan Kalender Gregorian yang sekarang dipakai oleh sebagian besar negara di dunia.

Jadi kalau ketidaksamaan Tahun Baru antara yang menggunakan Kalender Gregorian dan yang menggunakan Kalender Julian tidak membuat mereka ribut, lantas kenapa yang beda 1 syawalnya mesti ribut?

» Thanks for reading: Ternyata Bukan Hanya 1 Syawwal (Idul Fithri), 1 Januari (Tahun Baru Masehi) Pun Bisa Berbeda